Hujan dan Dunia yang Hening

Ada yang sedikit tidak biasa pada diri saya. Saat awan gelap muncul atau justru airnya sudah mulai jatuh jadi hujan, saya ingin keluar. Saya ingin keluar ruangan saat orang lain ingin berlindung di bawah atap. Karena saat hujan orang akan menyingkir. Saat hujan saya bisa memiliki dunia yang hening, hanya tersisa suara air jatuh dan kadang juga petir. Kalau saya bernyanyi tidak ada yang mendengar. Kalau saya menari tidak ada yang melihat.

Salah satu penyesalan saya saat hujan adalah harus memakai pelindung, jas hujan maupun payung. Karena akan terlihat aneh kalau saya hujan-hujanan begitu saja, sampai rumah ruangan akan basah semua, dan karena handphone dan earphone yang selalu saya gunakan untuk mendengarkan musik belum punya teknologi waterproof jadi harus saya lindungi dari air.

Sebenarnya saat hujan saya lebih suka jalan kaki karena pacenya lambat, jadi saya lebih bisa menikmati suasana. Sayangnya sedikit susah mencari lokasi jalan kaki yang enak di Semarang, jadi saya lebih sering memanfaatkan sepeda motor untuk jalan-jalan saat hujan. Atau kalau hujan turun dalam perjalanan pulang ke rumah, saya akan sengaja mencari rute memutar jauh demi menikmatinya, dan sengaja melambatkan kecepatan sepeda motor.

Saat di Seoul, saya bisa lebih sering jalan kaki saat hujan karena kota itu lebih ramah terhadap pejalan kaki. Ketika sudah hafal dengan sistem transportasi di Seoul dan percaya dengan keamanannya, saya suka nekat jalan-jalan sendirian tanpa arah dan tujuan. Terkadang bisa sampai jalan di perumahan kompleks tak dikenal, di pinggir jalan raya yang padahal nggak ada trotoarnya dan nggak ada orang disitu selain saya, pernah juga jalan menyeberangi Jembatan Banpo (Jembatan Pelangi) selama satu jam tanpa sadar, sampai bingung gimana caranya melihat pelanginya, padahal pelanginya nggak bisa kelihatan dari atas jembatannya, melainkan harus dari jauh dan melihat ke arah jembatan. 😛 Kalau sudah capek jalan, saya tinggal istirahat di kafe untuk mampir minum yang panas-panas atau mencari restoran Juk (Bubur Korea) yang bertebaran di sana.

Keheningan yang saya rasakan saat jalan-jalan sendirian di tengah hujan biasanya membawa banyak inspirasi. Baik itu berbentuk ide lirik, ide tulisan blog, atau pemikiran random saja yang suka saya hubungkan dengan teori yang saya dapat dari buku. Terkadang inspirasi jalanan saya menguatkan teori yang saya pelajari, tapi tidak jarang juga mengkontradiksi teori. Kadang jalan-jalan ini menenangkan saya, dan kadang juga membuat pusing saya dengan mengalirnya banyak pikiran random, yang saya artikan saja bisa bikin tambah pintar, hehe. Pokoknya, bagi yang belum pernah mencoba, saya merekomendasikan kegiatan ini untuk memberi quality time bagi pikiran yang sering terusik bisingnya dunia.

By the way, sebagai tambahan, saya ingin membagi playlist lagu saya saat dalam rainy mood. Setiap saat saya memejamkan mata dan mendengarkan lagu-lagu ini saya selalu bisa membayangkan hujan. Playlist ini berisi lagu-lagu dengan beat medium dan sound yang “basah”, dan beberapa di antaranya memang punya tema hujan. So, hope you’ll like it!

  1. Motohiro Hata – Rain

2. Yiruma – Spring Rain

3. Adam Levine – A Higher Place

4. Tulus – Bumerang

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s