Nyaman yang Bergaya saat Traveling

Salah satu perhatian terbesar saat persiapan traveling bagiku adalah pemilihan outfit. Karena traveling umumnya menuntut aktivitas banyak jalan kaki dan memiliki banyak keadaan yang tidak bisa diprediksi -seperti lari saat mengejar kereta, hujan mendadak, keadaan ramai dan penuh sesak, dsb, maka kenyamanan jadi pertimbangan utamaku dalam memilih outfit travelling. Sepatu? Pilihan utama biasanya sneakers atau sepatu olahraga. Baju? Yang paling nyaman ya pilih kaus saja. Tapi walaupun aku tahu bahwa kenyamanan outfit itu yang paling utama saat traveling, pada akhirnya aku pun tetap saja pusing memilih-milih baju yang akan dibawa.

Yah, aku tidak bisa menyangkal kalau terlihat menarik itu juga penting buatku. Sementara, berdasarkan pertimbangan kenyamanan saja, aku hanya melihat tumpukan celana jeans, kaus, dan sepatu olahraga. Hmm, kurang menarik. Padahal, sebagai orang yang peduli penampilan kan aku juga ingin terlihat bagus di foto, ditambah lagi, berpenampilan bagus akan membuatku terlihat tidak terlalu ‘turis’ yang biasanya hanya berkaus oblong, celana jeans, sandal, dan ransel, yang biasanya jadi sasaran utama para penipu dan copet. Jadi, sebenarnya ini berguna juga untuk keamanan pribadi.

Setelah menambahkan pertimbangan penampilan ke dalam pemilihan outfit traveling dan menghabiskan evaluasi berbagai baju yang pernah aku gunakan sebelumnya, akhirnya aku berhasil memutuskan beberapa pieces andalan yang hampir selalu dan akan selalu aku pakai saat traveling. Bahkan, kalau harus beli baju lagi, mungkin aku akan sering membeli baju-baju semacam itu untuk traveling, karena itu sudah menjadi semacam zona nyaman dalam berpenampilan saat traveling. Tidak salah kan untuk menyimpan sedikit zona nyaman di saat kita sedang di luar zona nyaman? 😉

Jadi, ini dia listnya:

Footwears – Sepatu lari, sepatu berbahan kulit (leather), dan sepatu bot.

  • Sepatu lari sudah jelas. Kalau nyaman dipakai lari, apalagi dipakai jalan kaki! Tapi bentuknya menurutku bulky dan sangat sporty, jadi tidak selalu cocok dipadupadankan dengan semua jenis baju. Apalagi kakiku juga tidak slim dan jenjang, menggunakan sepatu lari secara penampilan jadi agak tricky dan kurang fleksibel. Tapi karena nyaman banget, jadi aku selalu bawa ini ke mana-mana. Terutama aku pakai saat kegiatan outdoor yang berhubungan dengan alam.
  • Sepatu berbahan kulit ini bukan sepatu yang suka dipakai pria ke acara pernikahan lho ya. Sepatu berbahan kulit ada berbagai macam modelnya, untuk traveling pilih saja model yang paling kasual. Meskipun biasanya agak mahal, sepatu ini sangat awet, dan sangat nyaman dipakai jalan kaki, dan stylenya chic, jadi sepasang sepatu ini saja sudah bisa ‘menyelamatkan’ berbagai macam style travelingku yang kadang kelewat cuek. Kekurangannya, bahan sepatu ini rentan terhadap air dan cuaca ekstrem jadi ini bukan jenis sepatu yang cocok untuk dipakai hiking atau kegiatan alam, lebih cocok untuk jalan di kota.
  • Sepatu bot yang bagus kualitasnya jadi modal yang baik untuk traveling di banyak kondisi. Bahkan kalau jeli mencari, pasti bisa menemukan sepatu bot yang nyaman, kuat, modelnya bagus, dan bisa menambah sedikit tinggi badan –menguntungkan untuk orang-orang yang butuh sokongan tinggi badan seperti aku, hehe.

Outers – Jaket parka, coat.

satu outers yang stylish bisa menambah nilai style pakaian yang super basic sekalipun. Selain itu, jaket parka dan coat adalah jenis outer yang menurutku paling berguna untuk banyak kondisi saat traveling -bisa melindungi dari cuaca dingin, menyimpan barang-barang kecil di saku, melindungi badan, dan juga bisa menutupi badan dan wajah kalau kita tidur di tempat umum. Khusus untuk winter, pastikan coat yang dibawa adalah coat khusus untuk winter, ya! (Jangan tiru kesalahanku yang pernah meremehkan dinginnya winter di Korea, hehe)

One Piece Clothes – Playsuit/ jumpsuit

_DSC4960.jpg

Sudah tidak perlu didebat lagi kalau playsuit/ jumpsuit adalah pilihan paling nyaman dan paling stylish yang bisa didapatkan traveler wanita. Yang aku suka dari playsuit/ jumpsuit sendiri adalah fakta kalau satu baju saja sudah termasuk atasan dan bawahan dan warna-warnanya cerah dan menarik, jadi hemat ruang di tas sekaligus bisa lebih banyak bawa pilihan baju bagus 😛 dan sekarang playsuit wanita warna cerah sudah berbagai macam modelnya jadi aku tidak perlu susah mencari model yang cocok atau pusing mix and match saat traveling. Jadi praktis dan stylish!

By the way, Sekarang ini playsuit wanita warna cerah sudah bisa didapatkan di mana saja, bahkan tidak perlu ke toko. Sekarang sudah banyak e-commerce yang menyediakan pilihan style seperti ini. Sebagai contohnya, coba cek saja MatahariMall.com yang menyediakan playsuit/ jumpsuit yang lucu-lucu. Bahkan orang yang hemat seperti aku pun suka tergoda saat browsing.

Demikianlah list outfit andalanku saat traveling. Jangan lupa bahwa kenyamanan dan penampilan bisa dijunjung bersamaan, jadi jangan menyerah menentukan outfit travelingmu!

*featured post

The Blue View At Embung Batara Sriten

The day when I and Summer House Project got time to do group traveling was Easter holiday. Disinterested beforehand by the crowd’s prediction, we finally went to places where probably won’t attract many tourists. After climbing Punthuk Setumbu hill for the sunrise (read here), we went to the top of Kidul mt, Yogyakarta.

And I just realized it, in the middle of the road, why this place supposedly wouldn’t attract  many tourists.

Processed with VSCO with 4 preset

Processed with VSCO with 4 preset
unrelated with the road, I was just intrigued of why would someone put a TV there

 

The bumpy road made us feel like doing rodeo almost half the way to the top. Besides, going to this place would be impossible if you don’t have rides unless you want to spend all day long climbing by foot –while we took approximately 2-3 hours by car, and you still have to make sure that it’s in its prime condition. But instead of complaining, I found us enjoying the rodeo trip by laughing at the get-off balance feeling and singing silly songs. So pick enjoyable companies to make the rough trip here endurable in best possible ways.

Embung Batara Sriten is a basin used to contain rainwater to increase the water supply quality around the area which built 896 meters above sea level. It’s not originally built for a tourist destination. But just put a great basin on top of a high place, and it shall be dazzling. So why not let it be attended by the restless beauty seekers?

Processed with VSCO with 4 preset

Though it’s as beautiful as it is, the blue sky and its reflection on the basin couldn’t reduce my urge in finding a shady place to hide from midday’s sun. It wasn’t a kind of sunshine that makes me want to embrace summer by playing around outside, it was the kind that convicted me that if hell exists, it’s currently getting closer.

There’s a gazebo on top of the stairs where we then sat down and laying down while chatting. There’re some other groups and couples around, not that many until we lost spaces we expect. It was perfect to escape a crowded town full of acquaintances for a while, to this place where no one knows me. Being invisible is relieving  cause for a while no one would care. Only I and a few friends care about me here, and that’s fulfilling.

Processed with VSCO with 4 preset

 

There’s a hill behind the gazebo and we climbed it afterward, not too far, just till we got to see the land beneath. I was thankful that the clouds stopped by, made the weather shadier so the heat became bearable. The wind played nice on us, too. They got our mood right. I laughed as I watched my friends mimicking lame dancings they saw on the street. The laugh lasted till we left the place because the other jokes were running around, thanks for the nice weather and the pleasant view that the rough trip became justifiable by the pleasure of freedom.

Processed with VSCO with 4 preset

Processed with VSCO with 4 preset

Processed with VSCO with 4 preset

Embung Batara Sriten

address: Nglipar, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta

GPS coordinates: S7°49’56” E110°37’54

 

The Shadow of Largest Buddhist Temple

“Why come only to see the shadow of Borobudur, if we can see the real one?” that’s what I thought at first. I didn’t say anything, though, and just following the plan. As we reached the top of Punthuk Setumbu around sunrise time, it’s still dark. Then the sky’s getting brighter slowly as the sun’s rising behind the clouds. I could see the woods, the mist, and the faraway shadow line of Borobudur. Mesmerizing. Mysterious. I did visit Borobudur a few times before, yet, seeing it from this point of view, it triggered its magic on me all over again. Ironic, I wasn’t as charmed when looking at it up close. Maybe because I could see the flaws clearly. From faraway, I just saw a bit of reality, the rest was up to me. Maybe I wasn’t charmed by the temple. I was charmed by my fantasy.

All that Happened in 1255

I still can recall the first time I entered this room. Looked plain. Little did I know that it would evoke strong feeling, just by looking at the pictures. Every corner, every stuff, sunshine and moonlight that greeted me in every day and night had become my witnesses. Every tears I shed on my bed, every anger and anxiety I buried on the chair in front of my desk and scattered unfinished papers, every hope I’ve got whenever sun shined so brightly it woke me up from my sleep, every chill that’s full of fantasy I felt when looking at the moon in the break of my studying session. 6 months living is short. I’ve been preparing myself not to feel attached when I’m here. But I guess I can’t wipe my memories about my feeling triggered by this room. And by one more thing –Norah Jones’s Sunrise. 

40 Penghibur di Cat’s Playground | Seoul, KR

 Themed cafe adalah salah satu jenis tempat hiburan yang paling banyak ditemukan di Seoul. Mulai dari tema vintage, futuristik, retro, garden, semua berlomba-lomba menciptakan tema kafe yang belum pernah ada sebelumnya, jika hanya berkunjung selama lima hari mungkin belum cukup waktunya untuk mengunjungi segala jenis themed cafe yang ada di Seoul. Jadi, cukup penting untuk menyortir tema apa yang menjadi favorit kita untuk dijadikan prioritas untuk berkunjung. Salah satu tema favoritku sendiri adalah kafe kucing. Jangan malas dulu! Jangan hanya membayangkan kucing-kucing lokal yang biasa kita lihat di jalanan hanya dipelihara di satu tempat dan dibiarkan begitu saja di tempat tersebut. Nama kafe kucing yang aku kunjungi bernama Cat’s Playground, dan tempat tersebut menawarkan sesuatu yang lebih istimewa dari sekedar kumpulan kucing lokal.

DSC04397
Selamat datang di Cat’s Playground!

Waktu itu hujan turun cukup deras saat aku dan Azzahra sampai di sebuah bangunan di daerah Myeongdong yang kami kira sebagai bangunan tempat Cat’s Playground berada. Agak susah juga sih mencarinya karena di Myeongdong papan iklan sangat banyak, sangat mentereng, seolah saling merebut perhatian kami, sementara penanda kafe ini tidak segemerlap toko-toko lainnya. Kalau orang memang tidak berniat pergi ke tempat ini, mungkin tempat ini akan mudah diabaikan. Well, Akhirnya kami masuk, aku bersemangat sekali sampai deg-degan 😆

Cat’s playground berada di lantai 3, lalu sebelum masuk kafe, kami melepas sepatu dan menggantinya dengan sandal ruangan. Bagus juga, aku merasa tempat ini higienis meskipun ada banyak kucing di dalamnya. Whoaaa! Setelah memasuki pintu langsung terlihat kucing-kucing lucu tersebar di berbagai sudut di kafe, kebanyakan memang sedang malas-malasan sih, namanya juga kucing. Setelah itu kami langsung ke kasir dan membayar entry fee sebesar KRW 8,000, dengan harga itu kami bebas memilih minuman apa saja dari menu. Yap, tidak ada menu makanan. Mungkin takut nanti direbut sama kucing ya? 😀

Setelah membayar, lalu membersihkan tangan dengan hand sanitizer, lalu kami duduk, baru aku mengamati kucing-kucing tersebut. Sesuai ekspektasi, ada macam-macam jenis kucing yang mungkin tidak bisa aku temui jika tidak ke sini. Ada 40 kucing yang terdiri dari ras scottish fold, ragdoll, siamese, british short hair, persia, ras kucing lokal, dan ada juga yang aku tidak tahu, sepertinya pengetahuanku soal kucing masih kurang, oh dan ada satu anjing kecil juga sebagai penjaga! sepertinya dia peliharaan pribadi si pemilik, lucunya! Pada saat itu si pemilik kafe kebetulan sedang berjaga dan dia punya bahasa inggris yang cukup baik jadi aku bisa mendapatkan info secara langsung. Ternyata harga kucing ras itu mahal sekaliii! dia bercerita untuk ragdoll dan scottish fold termasuk ras paling mahal yang dia dapatkan seharga KRW 20,000,000, belum kucing lain yang biarpun tidak semahal itu, tapi kalau dihitung secara kolektif tetap saja bikin kantong kering, belum lagi biaya perawatannya. Selain itu, ternyata kucing-kucing ini juga dikebiri agar mereka tidak bisa bereproduksi, karena biaya perawatan tambahan untuk anak-anaknya akan bikin repot, aku pemilik. Jadi maklum juga kalau entry fee nya terhitung mahal dengan kualitas minuman yang standar, value kafe ini bukan di minumannya, tapi di interaksi dengan kucing dan varian ras kucing yang belum tentu kita bisa afford seorang diri. Dengan adanya kafe ini, pecinta kucing seperti aku, bisa tinggal datang, main, senang, lalu pulang. Kesenangan yang praktis kan?

DSC04430
gaya tidur scottish fold

Ngomong-ngomong, ini beberapa aturan yang harus ditaati di Cat’s Playground, demi kenyamanan kucing (I know, selalu saja kucing adalah rajanya! :mrgreen: ):

  • Harus mengenakan sandal yang disediakan di dalam kafe.
  • Tidak boleh membangunkan kucing yang sedang tidur.
  • Tidak boleh mengangkat kucing, kucing boleh tidur di pangkuan jika mereka yang bergerak sendiri ke pangkuan anda.
  • Tidak boleh mengganggu kucing yang sedang makan.
  • Kucing yang mengenakan kerah berwarna berarti masih muda atau sedang tidak sehat, sehingga lebih baik jangan didekati.

Arah menuju Cat’s Playground: Ambil jalur 4 subway menuju stasiun Myeondong, ambil exit 6, belok ke kiri lalu ikuti jalan utama. Di persimpangan kedua, belok ke kanan, beberapa meter di depan, Cat’s Playground akan ada di sisi kanan jalan. Perhatikan neon box dengan tulisan Cat’s Cafe.

Google Maps Coordinates: 37.561937, 126.985473

DSC04440
si pemilik kafe
DSC04407
kucing bahkan di meja kasir, lucu!

DSC04410

Khayalan Abad Pertengahan di Rothenburg Ob Der Tauber

Inspirasi mengenai tujuan travelling bisa datang dari mana saja. Bisa dari foto pariwisata, buku, film, bahkan bisa melalui animasi yang visualisasinya merupakan hasil buatan manusia. Untuk yang terakhir itu, bagiku yang merupakan penggemar anime, adalah sumber inspirasi travelling yang besar. Meskipun anime adalah produk kebudayaan dari Jepang, tapi settingnya seringkali mengambil inspirasi dari negara lainnya. Satu anime yang setting dan juga musiknya sangat aku sukai adalah A Little Snow Fairy Sugar. 

A.Little.Snow.Fairy.Sugar.full.23669

aku menontonnya saat aku berusia 7-8 tahun dan sejak itu selalu berharap seandainya tempat seperti itu benar-benar ada karena aku ingin sekali ke sana! Beberapa saat setelahnya, aku baru tahu bahwa setting anime tersebut mengambil inspirasi dari kota Rothenburg di Jerman. Dan akhirnya 9 tahun kemudian, kesempatan untuk mewujudkan mimpi kecil itu datang!

Di sela proyek exchange yang diadakan oleh AIESEC Lublin, Polandia, aku menyempatkan diri untuk mampir ke Jerman untuk mengunjungi seorang teman di Karlsruhe, sekaligus membujuknya untuk menemaniku ke Rothenburg. Yap, itu adalah salah satu agenda utama. Aku bahkan tidak berminat mampir-mampir ke Berlin atau Frankfurt terlebih dulu. Hei, aku sudah menunggu selama 9 tahun, tahu! Duh, aku jadi sangat berterimakasih perjanjian Schengen telah dibuat karena ini memudahkanku untuk berpindah lintas negara di Eropa.

Pertama kali sampai di bandara Karlsruhe, aku kaget sekali karena bandaranya sudah tutup dan sepi sekali! Memang sih, pesawat mendarat sekitar pukul 23.00, tapi aku sama sekali tidak menyangka bandara bisa sesepi ini. Selama perjalanan menuju tempat tinggal Melitta, aku mendapat kesan bahwa Jerman adalah negara yang sangat efisien. Aku melihatnya dari penerangan di jalan yang sangat minimal, dan sistem penerangan luar rumah penduduk yang aku lihat semuanya menggunakan sistem penerangan otomatis yang mendeteksi gerakan. Jadi lampu hanya menyala saat ada orang yang lewat. Efisien energi! Aku jadi teringat dengan teman-teman Jerman yang dulu aku temui di Indonesia. Meskipun mereka berkecukupan, tapi semuanya sangat teliti dan ketat dengan pengeluaran finansial masing-masing, bahkan sampai ke detil terkecil. Mungkin terbiasa dengan sistem yang efisien, ya?

Besoknya, Melitta menemaniku pergi ke Rothenburg mengendarai mobilnya. Untunglah, jadi lebih nyaman dan hemat, hehe. Yang aku tidak mengerti, kenapa sedikit sekali teman Melitta yang mengetahui eksistensi Rothenburg ini. Mungkin Rothenburg memang bukan tempat yang seterkenal Berlin atau Frankfurt. Anyway, aku justru senang menemukan permata tersembunyi, jadi lebih menarik!

Beberapa jam kemudian kami sampai. Dan, aku baru menyadari bahwa sisi abad pertengahan Rothenburg hanya berada di old townnya yang memang dilestarikan untuk kepentingan bisnis pariwisata, sementara sisanya sudah berubah menjadi perumahan moderen. Tembok panjang yang membatasi old town dan new town dulunya digunakan sebagai dinding pertahanan tentara Jerman selama masa Perang Dunia 2.

IMG_0029

IMG_0023

Meskipun saat itu adalah musim panas, situasi di Rothenburg tidak terlalu padat turis seperti di Praha. Mungkin memang tempat ini kalah popularitas jika dibandingkan tempat wisata lainnya. Tapi itu juga bisa jadi salah satu daya tarik, lho. Terutama jika kamu suka tempat yang tidak terlalu touristic, seperti aku. Lebih damai dan lebih bebas dari tourist trap. Selama aku berkeliling di kota ini, aku jadi membayangkan hidup di abad pertengahan. Kota ini terbilang sangat romantis dengan pemandangan deretan bangunan abad pertengahan yang dihiasi bunga-bunga, jalanan yang disusun dari batu, dan banyak gang kecil yang melewati toko roti yang aromanya harum, toko dekorasi natal dan mobil yang penuh kado di atasnya, sepeda penuh bunga yang diparkir di depan rumah, dan jangan lupakan gereja St. James dan menara belnya yang cantik.

IMG_0055

IMG_0024

Sebenarnya, dibandingkan musim panas, aku yakin Rothenburg akan jauh lebih cantik di musim dingin saat salju turun. Terutama pada bulan Desember, saat pasar natal diadakan, semangat natal mulai dinyalakan dengan dekorasi pohon dan lampunya yang berwarna-warni. Pasti kota ini jadi lebih cantik! Tidak heran kota ini, terutama saat musim dingin, sering dijadikan setting film fantasi, selain anime A Little Snow Fairy Sugar, kota ini juga menjadi salah satu setting film Harry Potter and the Deathly Hallows part 1 dan film Walt Disney, Pinocchio. Kota ini memang mampu menghidupkan khayalan romantis abad pertengahan.

IMG_0035

roti

IMG_0088

IMG_0082

rothenburg2
sisi Rothenburg yang paling ikonik!